Disusun oleh:
Niken Armeda Ayu Bintari
Q100130065/C
PEMBANGUNAN
KAPASITAS GURU UNTUK ICT PADA PENDIDIKAN DI KOREA
Hyoenjin kim, Hye-Kyung Yang, dan Dae Joon Hwang
Universitas pendidikan nasional Korea, pelayanan
informasi penelitian, dan
Universitas Sungkyunkwan, republik Korea
§ Indikator kompetensi guru
Ada
dua tipe dari indikator kompetensi guru untuk ICT dalam pendidikan telah
dikembangkan pada 1999-2002 dan 2004. Indikator yang pertama, standard
kemampuan ICT untuk guru (ISST), difokuskan pada guru melek komputer dan
pemrosesan informasi berdasarkan pada karir mengajar, sedangkan indikator kedua
fokus pada penggunaan guru akan ICT untuk pendidikan berdasarkan pada karir dan
subjek.
Menteri pendidikan, ilmu pengetahuan dan
teknologi (MEST) mendirikan ISST pada akhir -90an untuk memfasilitasi kemampuan
guru dari ICT dan pemrosesan informasi. ISST dikembangkan baik untuk sistem sertifikasi
dari kemampuan guru pada ICT maupun pelaitihan guru. Untuk sertifikasi, ISST
berdasarkan instrument penilaian telah dikembangkan untuk level guru, guru
master ICT, wakil kepala sekolah, dan kepala sekolah. Pemerintah mendukung
sistem sertifikasi ISST untuk 10% dari semua guru tahunan. Sistem sertifikasi
ISST memerankan peran yang penting dalam memotivasi guru untuk memperbaiki
kemampuan ICT mereka. Pemerintah menawarkan intensif pada pelamar dengan
sertifikat dalam perekrutan guru. Beberapa kantor pendidikan metropolitan dan
provinsi (MPOEs) juga menawarkan intensif untuk promosi dan transfer calon.
Spesifikasi dari ISST termasuk kategori,
area, dan standard rinci untuk guru, guru master ICT, kepala bupati, dan
sekolah CEO. Tabel 1 meringkas klasifikasi dan area dari ISST. Standard
difokuskan lebih pada kemampuan guru untuk menggunakan teknologi informasi
untuk menyelesaikan masalah dari pada sekedar melek ICT.
Sebagai tambahan untuk ISST, penelitian
pada pengembangan dari kompetensi ICT guru berdasarkan pada karir pengajaran
dan subjek dilaksanakan pada 2004. Kompetensi guru ini dikembangkan berdasarkan
pada area kerja guru seperti mengajar dan pemanduan, manajemen, dan pengembangan
profesi. Bagaimanapun, standard tidak diimplemetasikan nasional.
Guru dianggap sebagai agen yang penting
dari ICT dalam pendidikan, sebagaimana pembuat keputusan final yang memilih
jenis apa dari ICT digunakan dan bagaimana untuk melakukannya. Dalam hal ini,
pemerintah Korea telah menghasilkan pelatihan guru untuk melek ICT dan
integrasi tujuan sejak akhir 80an.
Pada tahap awal dari pengenalan ICT
dalam pedidikan, pendidikan ICT dalam hal melek komputer adalah berada pada
fokus utama, dari pada ICT dalam pendidikan (i.e integrasi kurikulum). Ini
adalah kasus untuk Korea dalam 1988-1995. Topik dari pendidikan komputer secara
umum termasuk perangkat keras dan program perangkat lunak seperti memprogram
program, sistem operasi, prosesor word, spreadsheets, program presentasi, dll.
Ringkasan
standard kemampuan ICT untuk guru (ISST)
|
kategori
|
area
|
|
pengumpulan informasi
|
mengidentifikasi
informasi, akses, dan membaca
mengumpulkan dan
evaluasi
menyimpanan dan
pengaturan
|
|
analisis dan proses
informasi
|
hasil, edit, dan
materi proses word
proses dan analisis
materi spreadsheet
hasil dan edit materi
multimedia
hasil dan edit materi
presentasi
penggunaan dan
pengaturan sistem NEIS
|
|
transfer dan
pertukaran informasi
|
kehadiran dan
transfer
komunikasi dan
pertukaran
|
|
etika dan keamanan
informasi
|
pemahaman masyarakat
informasi
mencegahdistribusi
dari materi yang berbahaya
menjaga properti
itelektual
tetap netiket
|
Khususnya, instruksi bantuan komputer
(CAI) diikutkan dalam pelatihan guru pada waktu itu, namun banyak batasan untuk
integrasi kepada pengajaran kelas yang dilaporkan, karena CAI tidak pas pada
metode pengajaran sekolah. Beberapa peralatan pengarangan seperti jaringan
Korea baru, GREAT, dan GREAT II dikembangkan untuk mendukung guru dalam
pengembangan mereka dari materi pengajaran (Son, 2009). Petugas wilayah dari
pendidikan mengimplemetasikan pelatihan guru pada memfasilitasi efektivitas
kegunaan dari peralatan ini. kedatangan dari PC 32-bit, Windows OS, dan suplai
internet pada 1995 diikuti oleh pelatihan guru untuk pengembangan materi
multimedia dan internet, dan jumlah dari guru peserta dalam program pelatihan
secara radikal meningkat.
§ Pelatihan guru
Awal dari tahun 1996, pelatihan guru
dilakukan dalam pola induk kedua untuk ICT dalam pendidikan dan memiliki fokus
yang lebih kuat pada integrasi teknologi. Pelatihan guru pada fase ini dibagi
kepada kursus umum untuk guru kelas dan kursus khusus pada pengembangan
training-of-trainers dan inspector. Pelatihan guru difokuskan pada pengembangan
dari materi multimedia dan level pengenalan dari intehgraasi. Fase pertama dari
pelatihan guru ICT mencakup lebih dar 25% dari guru pertahun. Pada waktu itu
pelatihan memiliki batasan untuk integrasi ICT guru kepada pedagogi dan
kurikulum mereka (Son, 2009).
Penetapan dari infrastruktur ICT kepada
sekolah pada 2000, guru mendapat komputer dan koneksi internet, tiap kelas
dilengkapi dengan proyektor, demikian guru harus menggunakan komputer dalam
mengajar. Oleh karena itu, pada 2001-2005, pelatihan guru dioreintasikan pada
integrasi ICT kepada kurikulum dari pada melek ICT. Program pelatihan termasuk
kursus wajib dan kursus pilihan. Pelatihan ICT wajib dikirimkan oleh petugas
pendidikan wilayah menyediakan pelatihan resmi. Pelatihan ini melibatkan 33%
dari guru setiap tahun. Program pelatihan ICT pilihan ditawarkan oleh sekolah
untuk paling tidak 15 jam tiap tahun termasuk berbagai topik berdasarkan pada
kebutuhan pelatihan sekolah individu tanpa kredit pelatihan resmi.
Pelatihan
guru untuk ICT dalam pendidikan sejak 1988
|
Periode
|
Infrastruktur ICT dan kebijakan
pelatihan
|
Topik pelatihan
|
No. dari pelatih
|
|
1988-1995
|
·
pola induk I
·
1988, PCs (XT), 1995, 32-bit PCs
|
· melek
ICT
· kemampuan
guru untuk mengembangkan materi multimedia dan penggunaan internet
|
260.000
|
|
1996-2000
|
·
pola induk II
·
2000, komputer guru dengan
koneksi internet dan proyektor tiap kelas dalam sekolah utama dan tambahan
·
1997, fase pertama dari guru
pelatihan guru ICT lebih dari 25% dari guru tiap tahun
|
kemampuan guru untuk
menggunakan dengan menghasilkan isi dan materi
|
340.000
|
|
2001-2005
|
·
pola induk II
·
2001, tahap kedua dari pelatihan
guru ICT lebih dari 33% dari guru tiap tahun (kursus wajib)
·
juga, kursus suka rela (15 jam
pertahun)
|
· 2001,
fase kedua dari ICT pelatihan guru
· fokus
pelatihan diganti dari melek ICT menjadi integrasi ICT
|
580.000
|
|
sejak 2006
|
·
pola induk III
·
pelatihan berdasarkan pada tahap
karir guru
·
memfasilitasi keberlanjutan
integrasi guru dari ICT kepada sekolah
|
pengajaran dengan
memunculkan teknologi seperti jaringan 2.0, IPTV, dll
|
sedang berjalan
|
Sejak 2006 pelatihan guru untuk ICT
dalam pendidikan dalam pola induk III nasional telah memasuki tahap yang dewasa
terfokus pada u-learning dan masyarakat pengetahuan.pemerintah ROK membangun
kerangka kerja untuk ICT dalam pendidikan berdasarkan pada tahap karir guru,
dari pelantikan sampai kepada pengunduran diri sehingga guru dan supervisor
dapat mengetahui program pelatihan apa yang diperlukan pada tiap tahap. Sekolah
COEs telah memainkan peran yang kritis dalam ICT dalam pendidikan pada tiap
sekolah. Sebagai tambahan untuk melek ICT, program pelatihan untuk sekolah COEs
menyertakan supervise untuk ICT dalam pendidikan, managemen sekolah yang
menerapkan ICT, pembangunan komunitas pembelajaran melalui web sekolah, studi
kasus dari ICT dalam pendidikan. Sebagai hasil, 33% dari sekolah COEs menerima
pelatihan ICT tahunan selama periode antara 2001 dan 2008.
Teknologi memotong ujung secara continue
berevolusi, dengan demikian pemerintah ROK mendesain program pelatihan untuk
integrasi dari teknologi yang muncul seperti The Establishment Or School Of 21th Century (Web 2.0), IPTV,
dll. Yang mana pada tiap waktu guru
untuk mengitegrasi ICT kepada pratek pengajaran. Sejak pengembangannya pada
2008, The National Teacher Training
Information Service (NTTS) sistem membantu guru menemukan informasi yang
cocok pada pelatihan guru, terhadap penilaian diri dari kompetandi guru, dan
menawarkan informasi pada status sekarang dari program pelatihan guru.
|
Langkah
|
Kursus pengetahuan dasar ict
|
Kursus praktek dasar ict
|
Kursus praktek lanjutan ict
|
Kursus kepemimpinan
|
|
|
deskripsi
|
pencarian informasi
dan peralatan ICT |
permasalahan
penerapan ICT yang dipusatkan
pendidikan
orientasi masa depan
|
kelas
kreatif dengan penerapan ICT
penerapan
ICT kelas untuk kekuatan berpikir
|
pendirian
dari sekolah pada abad ke 21
inovasi
kepemimpinan dalam pendidikan oleh manajer sekolah
|
|
kursus lanjutan untuk
penerapan ICT |
|||||
|
|
|||||
|
pelatih
|
guru
|
CEO
pendidikan
|
|||
![]() |
|||||
Tiga agen utama – MEST, KERIS, dan 16
MPOEs – berkontribusi pada pelatihan guru ICT di Korea, setiapnya memerankan
peranannya dalam proses ini. MEST mengelaborasi pola induk ICT, termasuk
spektrum yang luas dari pengembangan kompetensi guru seperti pelatihan guru,
kompetisi guru, pengembangan standard, dll. Keputusan akhir dan dukungan untuk
pelatihan guru adalah tanggung jawab dari MEST. Berdasarkan pada pola induk
MEST dan dana, KERIS merencakan, mengimplementasi, memantau dan mengevaluasi
program pelatihan guru. KERIS telah mengembangkan program pelatihan guru (mis.
Perencanaan pelajaran dan pembelajaran kreatif pelajar abad 21). Sebagai
tambahan KERIS mengimplementasi sesi TTT (training the trainers) untuk semua
program pelatihan.
Ini adalah penekatan air terjun yang
dapat secara efektif menyebarkan program pelatihan pada sejumlah pelatih dalam
waktu yang singkat. KERIS secara aktif fokus pada guru master dan sesi pilot.
Semua program pelatihan diimpelmentasi dengan desain oleh MPOEs. Secara umum,
MPOEs membiasakan program pelatihan untuk mencocokan kebutuhan pelatihan mereka
sendiri. Meninjau fakta bahwa MPOEs adalah mampu untuk membuat keputusan final
dengan penghormatan pada dana pelatihan, mereka membangun operasi tahunan untuk
program pelatihan.
§ Kesimpulan
Beberapa faktor mendorong keberhasilan
pelatihan guru untuk ICT dalam pendidikan di republic Korea.
Pertama, pelatihan guru diimplementasi
pada dasar dari ICT nasional dalam pola induk pendidikan. Pola induk secara
umum termasuk rencana komperhensif seperti pengembangan isi, dan infrastruktur
ICT; oleh karena itu, topik dari program pelatihan guru adalah berada garis
dengan prioritas ini dan inisiatif nasional dukungan. Pendekatan ini
mengkontribusi pada efektivitas dari pelatihan guru. Kasus dari beberapa Negara
mendemonstrasi jarak antara topic pelatihan guru dan status nasional dari
kesiapan ICT.
Kedua, kerangka kerja dari pelatihan
guru dihubungkan dengan tahap karir guru menghasilkan rasa dari integrasi
komplit dari kompetensi semacam ini kepada pengembangan karir. Hal ini dapat
memfasilitasi keberlangsungan dari pelatihan guru sepanjang waktu.
Ketiga, fokus pelatihan dapat berubah
dengan perhitungan dari kebutuhan pelatihan baru. Percobaan dan kesalahan
tidaklah dapat dihindari, tidak semua dapat dipelajari dari pelajaran ini.
pelatihan guru utama awalnya pada 2001 mengindikasi beberapa percobaan dan
kesalahan perihal kebutuhan pelatihan. Guru dengan cepat memfamiliarkan mereka
sendiri dengan ICT dan tipe variasi yang diminta dari pelatihan. Untuk
memuaskan kebutuhan pelatihan guru, pelatihan guru di republik Korea
dikembangkan oleh KERIS fokus pelatihan dapat berubah dengan perhitungan dari
kebutuhan pelatihan baru. Percobaan dan kesalahan tidaklah dapat dihindari,
tidak semua dapat dipelajari dari pelajaran ini. pelatihan guru utama awalnya
pada 2001 mengindikasi beberapa percobaan dan kesalahan perihal kebutuhan
pelatihan. Guru dengan cepat memfamiliarkan mereka sendiri dengan ICT dan tipe
variasi yang diminta dari pelatihan. Untuk memuaskan kebutuhan pelatihan guru,
pelatihan guru di republik Korea dikembangkan oleh KERIS.
Terakhir, mekanisme penerapan juga
faktor keberhasilan pada efektivitas dari penyebaran program pelatihan. Ini jug
pemantuan dari kualitas pelatihan guru dari tiga prespektif yang berbeda.
Untuk pelatihan guru dimasa depan,
definisi dari peran guru baru dan kompetensi untuk ICT dalam pendidikan
seharusnya dipertimbangkan. Pada pandangan dari fakta bahwa keahlian guru menjadi
penting dan semakin penting, ICT dalam pendidikan harus secara berlanjut
memfasilitasi keahlian guru pada pengajaran dan pembelajaran. Tambahan
pelatihan untuk sekolah COEs dan administrasi dibutuhkan sebagaimana mereka
memainkan peran dalam proses pembuatan keputusan untuk pedidikan masa depan.
Fokus pelatihan dapat berubah dengan perhitungan dari kebutuhan pelatihan baru.
Percobaan dan kesalahan tidaklah dapat dihindari, tidak semua dapat dipelajari
dari pelajaran ini. pelatihan guru utama awalnya pada 2001 mengindikasi
beberapa percobaan dan kesalahan perihal kebutuhan pelatihan. Guru dengan cepat
memfamiliarkan mereka sendiri dengan ICT dan tipe variasi yang diminta dari
pelatihan. Untuk memuaskan kebutuhan pelatihan guru, pelatihan guru di republik
Korea dikembangkan oleh KERIS.


