Jumat, 27 Desember 2013

MAKALAH_PEMBANGUNAN KAPASITAS GURU UNTUK ICT_SEKOLAH PASCASARJANA_UMS

Disusun oleh:
Niken Armeda Ayu Bintari               
Q100130065/C

PEMBANGUNAN KAPASITAS GURU UNTUK ICT PADA PENDIDIKAN DI KOREA
Hyoenjin kim, Hye-Kyung Yang, dan Dae Joon Hwang
Universitas pendidikan nasional Korea, pelayanan informasi penelitian, dan
Universitas Sungkyunkwan, republik Korea

§  Indikator kompetensi guru

Ada dua tipe dari indikator kompetensi guru untuk ICT dalam pendidikan telah dikembangkan pada 1999-2002 dan 2004. Indikator yang pertama, standard kemampuan ICT untuk guru (ISST), difokuskan pada guru melek komputer dan pemrosesan informasi berdasarkan pada karir mengajar, sedangkan indikator kedua fokus pada penggunaan guru akan ICT untuk pendidikan berdasarkan pada karir dan subjek.
Menteri pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi (MEST) mendirikan ISST pada akhir -90an untuk memfasilitasi kemampuan guru dari ICT dan pemrosesan informasi. ISST dikembangkan baik untuk sistem sertifikasi dari kemampuan guru pada ICT maupun pelaitihan guru. Untuk sertifikasi, ISST berdasarkan instrument penilaian telah dikembangkan untuk level guru, guru master ICT, wakil kepala sekolah, dan kepala sekolah. Pemerintah mendukung sistem sertifikasi ISST untuk 10% dari semua guru tahunan. Sistem sertifikasi ISST memerankan peran yang penting dalam memotivasi guru untuk memperbaiki kemampuan ICT mereka. Pemerintah menawarkan intensif pada pelamar dengan sertifikat dalam perekrutan guru. Beberapa kantor pendidikan metropolitan dan provinsi (MPOEs) juga menawarkan intensif untuk promosi dan transfer calon.
Spesifikasi dari ISST termasuk kategori, area, dan standard rinci untuk guru, guru master ICT, kepala bupati, dan sekolah CEO. Tabel 1 meringkas klasifikasi dan area dari ISST. Standard difokuskan lebih pada kemampuan guru untuk menggunakan teknologi informasi untuk menyelesaikan masalah dari pada sekedar melek ICT.
Sebagai tambahan untuk ISST, penelitian pada pengembangan dari kompetensi ICT guru berdasarkan pada karir pengajaran dan subjek dilaksanakan pada 2004. Kompetensi guru ini dikembangkan berdasarkan pada area kerja guru seperti mengajar dan pemanduan, manajemen, dan pengembangan profesi. Bagaimanapun, standard tidak diimplemetasikan nasional.
Guru dianggap sebagai agen yang penting dari ICT dalam pendidikan, sebagaimana pembuat keputusan final yang memilih jenis apa dari ICT digunakan dan bagaimana untuk melakukannya. Dalam hal ini, pemerintah Korea telah menghasilkan pelatihan guru untuk melek ICT dan integrasi tujuan sejak akhir 80an.
Pada tahap awal dari pengenalan ICT dalam pedidikan, pendidikan ICT dalam hal melek komputer adalah berada pada fokus utama, dari pada ICT dalam pendidikan (i.e integrasi kurikulum). Ini adalah kasus untuk Korea dalam 1988-1995. Topik dari pendidikan komputer secara umum termasuk perangkat keras dan program perangkat lunak seperti memprogram program, sistem operasi, prosesor word, spreadsheets, program presentasi, dll.

Ringkasan standard kemampuan ICT untuk guru (ISST)
kategori
area
pengumpulan informasi
mengidentifikasi informasi, akses, dan membaca
mengumpulkan dan evaluasi
menyimpanan dan pengaturan
analisis dan proses informasi
hasil, edit, dan materi proses word
proses dan analisis materi spreadsheet
hasil dan edit materi multimedia
hasil dan edit materi presentasi
penggunaan dan pengaturan sistem NEIS
transfer dan pertukaran informasi
kehadiran dan transfer
komunikasi dan pertukaran
etika dan keamanan informasi
pemahaman masyarakat informasi
mencegahdistribusi dari materi yang berbahaya
menjaga properti itelektual
tetap netiket

Khususnya, instruksi bantuan komputer (CAI) diikutkan dalam pelatihan guru pada waktu itu, namun banyak batasan untuk integrasi kepada pengajaran kelas yang dilaporkan, karena CAI tidak pas pada metode pengajaran sekolah. Beberapa peralatan pengarangan seperti jaringan Korea baru, GREAT, dan GREAT II dikembangkan untuk mendukung guru dalam pengembangan mereka dari materi pengajaran (Son, 2009). Petugas wilayah dari pendidikan mengimplemetasikan pelatihan guru pada memfasilitasi efektivitas kegunaan dari peralatan ini. kedatangan dari PC 32-bit, Windows OS, dan suplai internet pada 1995 diikuti oleh pelatihan guru untuk pengembangan materi multimedia dan internet, dan jumlah dari guru peserta dalam program pelatihan secara radikal meningkat.

§  Pelatihan guru
Awal dari tahun 1996, pelatihan guru dilakukan dalam pola induk kedua untuk ICT dalam pendidikan dan memiliki fokus yang lebih kuat pada integrasi teknologi. Pelatihan guru pada fase ini dibagi kepada kursus umum untuk guru kelas dan kursus khusus pada pengembangan training-of-trainers dan inspector. Pelatihan guru difokuskan pada pengembangan dari materi multimedia dan level pengenalan dari intehgraasi. Fase pertama dari pelatihan guru ICT mencakup lebih dar 25% dari guru pertahun. Pada waktu itu pelatihan memiliki batasan untuk integrasi ICT guru kepada pedagogi dan kurikulum mereka (Son, 2009).
Penetapan dari infrastruktur ICT kepada sekolah pada 2000, guru mendapat komputer dan koneksi internet, tiap kelas dilengkapi dengan proyektor, demikian guru harus menggunakan komputer dalam mengajar. Oleh karena itu, pada 2001-2005, pelatihan guru dioreintasikan pada integrasi ICT kepada kurikulum dari pada melek ICT. Program pelatihan termasuk kursus wajib dan kursus pilihan. Pelatihan ICT wajib dikirimkan oleh petugas pendidikan wilayah menyediakan pelatihan resmi. Pelatihan ini melibatkan 33% dari guru setiap tahun. Program pelatihan ICT pilihan ditawarkan oleh sekolah untuk paling tidak 15 jam tiap tahun termasuk berbagai topik berdasarkan pada kebutuhan pelatihan sekolah individu tanpa kredit pelatihan resmi.

Pelatihan guru untuk ICT dalam pendidikan sejak 1988
Periode
Infrastruktur ICT dan kebijakan pelatihan
Topik pelatihan
No. dari pelatih
1988-1995
·         pola induk I
·         1988, PCs (XT), 1995, 32-bit PCs
·    melek ICT
·    kemampuan guru untuk mengembangkan materi multimedia dan penggunaan internet
260.000
1996-2000
·         pola induk II
·         2000, komputer guru dengan koneksi internet dan proyektor tiap kelas dalam sekolah utama dan tambahan
·         1997, fase pertama dari guru pelatihan guru ICT lebih dari 25% dari guru tiap tahun
kemampuan guru untuk menggunakan dengan menghasilkan isi dan materi
340.000
2001-2005
·         pola induk II
·         2001, tahap kedua dari pelatihan guru ICT lebih dari 33% dari guru tiap tahun (kursus wajib)
·         juga, kursus suka rela (15 jam pertahun)
·    2001, fase kedua dari ICT pelatihan guru
·    fokus pelatihan diganti dari melek ICT menjadi integrasi ICT
580.000
sejak 2006
·         pola induk III
·         pelatihan berdasarkan pada tahap karir guru
·         memfasilitasi keberlanjutan integrasi guru dari ICT kepada sekolah
pengajaran dengan memunculkan teknologi seperti jaringan 2.0, IPTV, dll
sedang berjalan

Sejak 2006 pelatihan guru untuk ICT dalam pendidikan dalam pola induk III nasional telah memasuki tahap yang dewasa terfokus pada u-learning dan masyarakat pengetahuan.pemerintah ROK membangun kerangka kerja untuk ICT dalam pendidikan berdasarkan pada tahap karir guru, dari pelantikan sampai kepada pengunduran diri sehingga guru dan supervisor dapat mengetahui program pelatihan apa yang diperlukan pada tiap tahap. Sekolah COEs telah memainkan peran yang kritis dalam ICT dalam pendidikan pada tiap sekolah. Sebagai tambahan untuk melek ICT, program pelatihan untuk sekolah COEs menyertakan supervise untuk ICT dalam pendidikan, managemen sekolah yang menerapkan ICT, pembangunan komunitas pembelajaran melalui web sekolah, studi kasus dari ICT dalam pendidikan. Sebagai hasil, 33% dari sekolah COEs menerima pelatihan ICT tahunan selama periode antara 2001 dan 2008.
Teknologi memotong ujung secara continue berevolusi, dengan demikian pemerintah ROK mendesain program pelatihan untuk integrasi dari teknologi yang muncul seperti The Establishment Or School Of 21th Century (Web 2.0), IPTV, dll.  Yang mana pada tiap waktu guru untuk mengitegrasi ICT kepada pratek pengajaran. Sejak pengembangannya pada 2008, The National Teacher Training Information Service (NTTS) sistem membantu guru menemukan informasi yang cocok pada pelatihan guru, terhadap penilaian diri dari kompetandi guru, dan menawarkan informasi pada status sekarang dari program pelatihan guru.



Langkah
Kursus pengetahuan dasar ict
Kursus praktek dasar ict
Kursus praktek lanjutan ict
Kursus kepemimpinan
deskripsi
pencarian informasi dan peralatan ICT
permasalahan penerapan ICT yang dipusatkan
pendidikan orientasi masa depan
kelas kreatif dengan penerapan ICT
penerapan ICT kelas untuk kekuatan berpikir
pendirian dari sekolah pada abad ke 21
inovasi kepemimpinan dalam pendidikan oleh manajer sekolah
kursus lanjutan untuk penerapan ICT

pelatih
guru
CEO pendidikan
Right Arrow: Lingkaran kehidupan staff sekolah


Tiga agen utama – MEST, KERIS, dan 16 MPOEs – berkontribusi pada pelatihan guru ICT di Korea, setiapnya memerankan peranannya dalam proses ini. MEST mengelaborasi pola induk ICT, termasuk spektrum yang luas dari pengembangan kompetensi guru seperti pelatihan guru, kompetisi guru, pengembangan standard, dll. Keputusan akhir dan dukungan untuk pelatihan guru adalah tanggung jawab dari MEST. Berdasarkan pada pola induk MEST dan dana, KERIS merencakan, mengimplementasi, memantau dan mengevaluasi program pelatihan guru. KERIS telah mengembangkan program pelatihan guru (mis. Perencanaan pelajaran dan pembelajaran kreatif pelajar abad 21). Sebagai tambahan KERIS mengimplementasi sesi TTT (training the trainers) untuk semua program pelatihan.
Ini adalah penekatan air terjun yang dapat secara efektif menyebarkan program pelatihan pada sejumlah pelatih dalam waktu yang singkat. KERIS secara aktif fokus pada guru master dan sesi pilot. Semua program pelatihan diimpelmentasi dengan desain oleh MPOEs. Secara umum, MPOEs membiasakan program pelatihan untuk mencocokan kebutuhan pelatihan mereka sendiri. Meninjau fakta bahwa MPOEs adalah mampu untuk membuat keputusan final dengan penghormatan pada dana pelatihan, mereka membangun operasi tahunan untuk program pelatihan.





















§  Kesimpulan
Beberapa faktor mendorong keberhasilan pelatihan guru untuk ICT dalam pendidikan di republic Korea.
Pertama, pelatihan guru diimplementasi pada dasar dari ICT nasional dalam pola induk pendidikan. Pola induk secara umum termasuk rencana komperhensif seperti pengembangan isi, dan infrastruktur ICT; oleh karena itu, topik dari program pelatihan guru adalah berada garis dengan prioritas ini dan inisiatif nasional dukungan. Pendekatan ini mengkontribusi pada efektivitas dari pelatihan guru. Kasus dari beberapa Negara mendemonstrasi jarak antara topic pelatihan guru dan status nasional dari kesiapan ICT.
Kedua, kerangka kerja dari pelatihan guru dihubungkan dengan tahap karir guru menghasilkan rasa dari integrasi komplit dari kompetensi semacam ini kepada pengembangan karir. Hal ini dapat memfasilitasi keberlangsungan dari pelatihan guru sepanjang waktu.
Ketiga, fokus pelatihan dapat berubah dengan perhitungan dari kebutuhan pelatihan baru. Percobaan dan kesalahan tidaklah dapat dihindari, tidak semua dapat dipelajari dari pelajaran ini. pelatihan guru utama awalnya pada 2001 mengindikasi beberapa percobaan dan kesalahan perihal kebutuhan pelatihan. Guru dengan cepat memfamiliarkan mereka sendiri dengan ICT dan tipe variasi yang diminta dari pelatihan. Untuk memuaskan kebutuhan pelatihan guru, pelatihan guru di republik Korea dikembangkan oleh KERIS fokus pelatihan dapat berubah dengan perhitungan dari kebutuhan pelatihan baru. Percobaan dan kesalahan tidaklah dapat dihindari, tidak semua dapat dipelajari dari pelajaran ini. pelatihan guru utama awalnya pada 2001 mengindikasi beberapa percobaan dan kesalahan perihal kebutuhan pelatihan. Guru dengan cepat memfamiliarkan mereka sendiri dengan ICT dan tipe variasi yang diminta dari pelatihan. Untuk memuaskan kebutuhan pelatihan guru, pelatihan guru di republik Korea dikembangkan oleh KERIS.
Terakhir, mekanisme penerapan juga faktor keberhasilan pada efektivitas dari penyebaran program pelatihan. Ini jug pemantuan dari kualitas pelatihan guru dari tiga prespektif yang berbeda.
Untuk pelatihan guru dimasa depan, definisi dari peran guru baru dan kompetensi untuk ICT dalam pendidikan seharusnya dipertimbangkan. Pada pandangan dari fakta bahwa keahlian guru menjadi penting dan semakin penting, ICT dalam pendidikan harus secara berlanjut memfasilitasi keahlian guru pada pengajaran dan pembelajaran. Tambahan pelatihan untuk sekolah COEs dan administrasi dibutuhkan sebagaimana mereka memainkan peran dalam proses pembuatan keputusan untuk pedidikan masa depan. Fokus pelatihan dapat berubah dengan perhitungan dari kebutuhan pelatihan baru. Percobaan dan kesalahan tidaklah dapat dihindari, tidak semua dapat dipelajari dari pelajaran ini. pelatihan guru utama awalnya pada 2001 mengindikasi beberapa percobaan dan kesalahan perihal kebutuhan pelatihan. Guru dengan cepat memfamiliarkan mereka sendiri dengan ICT dan tipe variasi yang diminta dari pelatihan. Untuk memuaskan kebutuhan pelatihan guru, pelatihan guru di republik Korea dikembangkan oleh KERIS.


Disusun oleh:
Niken Armeda Ayu Bintari
Q100130065/C


ICT Sebagai Alat Bantu Management Sekolah

BAB I
Pendahuluan

Seiring dengan kemajuan teknologi yang mengglobal telah terpengaruh dalam segala aspek kehidupan baik di bidang ekonomi, politik, kebudayaan, seni dan bahkan di dunia pendidikan. Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuanm ilmu pengetahuan. Kehadiran TIK dalam pendidikan bisa dimaknai dalam tiga paradigma, yaitu (1) TIK sebagai alat atau berupa produk teknologi yang bisa digunakan dalam pendidikan, (2) TIK sebagai konten atau sebagai bagian dari materi yang bisa dijadikan isi dalam pendidikan, dan (3) TIK sebagai program aplikasi atau alat bantu untuk manajemen pendidikan yang efektif dan efisien.
ICT (Information and Communication Technology)  atau dalam bahasa indonesia disebut TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup tiga aspek yaitu teknologi komputer, muatan informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi komputer dan muatan informasi dikenal dengan istilah teknologi informasi adalah meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.
Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk susuai dengan fungsinya dalam pendidikan. Fungsi teknologi informasi dan Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk pendidikan sudah menjadi keharusan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. Berbagai aplikasi teknologi informasi dan komunikasi sudah tersedia dalam masyarakat dan sudah siap menanti untuk dimanfaatkan secara optimal untuk keperluan pendidikan. Pada kondisi riil, teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan nantinya berfungsi sebagai gudang ilmu, alat bantu pembelajaran, fasilitas pendidikan, standar kompetensi, penunjang administrasi, alat bantu manajemen sekolah, dan sebagai infrastruktur pendidikan.


Berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) Departemen Pendidikan Nasional tahun
2005-2009, untuk dapat memberikan pelayanan prima, salah satu yang perlu dilakukan adalah pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang dilakukan melalui pendayagunaan TIK di bidang pendidikan yang mencakup peran TIK sebagai substansi pendidikan, alat bantu pembelajaran, fasilitas pendidikan, standar kompetensi, penunjang administrasi pendidikan, alat bantu manajemen satuan pendidikan, dan infrastruktur pendidikan.



























BAB II
Pembahasan

Perkembangan TIK atau multimedia di Indonesia khususnya dalam dunia pendidikan masih belum optimal dibandingkan dengan negara-negara tetangga sepertI Singapura, Malaysia dan Thailand. Terdapat beberapa masalah dan kendala yang masih dirasakan oleh masyarakat khususnya tenaga pendidik dan profesional pendidikan untuk memanfaatkan TIK di berbagai jenjang pendidikan baik formal maupun non formal.
Konsep Teknologi Informasi dan Komunikasi
Secara sederhana Elston (2007) membedakan antara Teknologi Informasi (IT) dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT), yaitu “IT as the technology used to managed information and ICT as the technology used to manage information and aid communication”. Sementara itu, UNESCO (2003) mendefinisikan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai berikut: “ICT generally relates to those technologies that are used for accessing, gathering, manipulating and presenting or communicating  information. The technologies could include hardware e.g. computers and others devices, software applications, and connectivity e.g. access to the internet, local networking infrastructure, and  video conferencing”.
Tiga pilar Penerapan ICT  ( Informasi and Communication Technology )
Ada tiga piar yang saling melengkapi guna penerapan ICT (informasi and Communication Technology ) di sekolah, antara lain :
1.        Sistem Manajemen Sekolah (School Management System)
Suatu sistem yang mengatur bagaimana perencanaan, operasional, monitoring dan improvement suatu organisasi sekolah
2.        Strategi Pengembangan ICT di sekolah
Suatu perencanaan ICT jangka panjang terintegrasi untuk seluruh elemen di sekolah mencakup : Jangkauan dan scope ICT, Pemilihan teknologi (hardware, software, jaringan, internet provider, programing, data base system dan lain-lain), tahapan implementasi, pelatihan ICT, sosialisasi dan lain-lain
3.        Pengembangan budaya ICT di sekolah
Sebuah perencanaan yang bertujuan untuk membuat sebuah lingkungan belajar berbasis ICT, menuju budaya implementasi ICT di sekolah yang sehat dan efektif. Pengembangan budaya ICT ini melibatkan seluruh elemen sekolah/stakholder (pimpinan, guru, karyawan, siswa dan bahkan orang tua siswa).

ICT sebagai Alat Bantu dan Fasilitas Pendidikan
  • Penyampaian pengetahuan seharusnya mempertimbangkan konteks dunia nyatanya.
  • Memberikan ilustrasi berbagai fenomena ilmu pengetahuan untuk mempercepat penyerapan bahan ajar.
  • Peserta didik diharapkan melakukan eksplorasi terhadap pengetahuannya secara lebih bebas dan mandiri.
  • Akuisisi pengetahuan berasal dari interaksi antarpeserta didik dan pendidik.
  • Rasio antara pendidik dan peserta didik tidak dibatasi tergantung pada proses dan pemberian fasilitas.

ICT sebagai alat bantu manajemen pembelajaran
§  Tiap individu memerlukan dukungan pembelajaran tanpa henti tiap harinya
§  Transaksi dan interaksi interaktif antar stakeholder memerlukan pengelolaan back office yang kuat
§  Kualitas layanan pada pengeekan administrasi ditingkatkan secara bertahap
§  Orang merupakan sumber daya yang bernilai
ICT juga sebagai Manajemen terkait dengan perencanaan, pengelolaan, pengawasan dan evaluasi penyelengaraan pendidikan di tingkat sekolah. Fungsi-fungsi tersebut dapat dibantu dengan pemanfaatan ICT, misalnya melalui program aplikasi pengolah kata dapat membuat dokumen-dokumen perencanaan sekolah, SIM atau sistem informasi Manajemen sekolah dapat dibuat sekolah sebagai sumber informasi untuk mempermudah akses informasi. Melalui Jardiknas, akan terbangun komunitas antar sekolah yang memudahkan komunikasi antar sekolah. Melalui CCTV saat ini dapat dimanfaatkan sekolah sebagai salah satu bentuk pengawasan pembelajaran.
Ada beberapa permanfaatan TIK atau ICT dalam Pendidikan :
Menurut pemanfaatannya, TIK di dalam pendidikan dapat dikategorisasikan menjadi 4 (empat) kelompok manfaat :
1.      TIK sebagai Gudang Ilmu Pengetahuan, di kelompok ini TIK dimanfaatkan sebagai sebagai Referensi Ilmu Pengetahuan Terkini, Manajemen Pengetahuan, Jaringan Pakar Beragam Bidang Ilmu, Jaringan Antar Institusi Pendidikan, Pusat Pengembangan Materi Ajar, Wahana Pengembangan Kurikulum, dan Komunitas Perbandingan Standar Kompetensi.
2.      TIK sebagai Alat bantu Pembelajaran, di dalam kelompok ini sekurang-kurangnya ada 3 fungsi TIK yang dapat dimanfaatkan sehari-hari di dalam proses belajar-mengajar, yaitu
  • TIK sebagai alat bantu guru yang meliputi: Animasi Peristiwa, Alat Uji Siswa, Sumber Referensi Ajar, Evaluasi Kinerja Siswa, Simulasi Kasus, Alat Peraga Visual, dan Media Komunikasi Antar Guru. Kemudian
  • TIK sebagai Alat Bantu Interaksi Guru-Siswa yang meliputi: Komunikasi Guru-Siswa, Kolaborasi Kelompok Studi, dan Manajemen Kelas Terpadu. Sedangkan
  • TIK sebagai Alat Bantu Siswa meliputi: Buku Interaktif , Belajar Mandiri, Latihan Soal, Media Illustrasi, Simulasi Pelajaran, Alat Karya Siswa, dan media Komunikasi Antar Siswa.
3.      TIK sebagai Fasilitas Pembelajaran, di dalam kelompok ini TIK dapat dimanfaatkan sebagai: Perpustakaan Elektronik, Kelas Virtual, Aplikasi Multimedia, Kelas Teater Multimedia, Kelas Jarak Jauh, Papan Elektronik Sekolah, Alat Ajar Multi-Intelejensia, Pojok Internet, dan Komunikasi Kolaborasi Kooperasi (Intranet Sekolah). dan
4.      TIK sebagai Infrastruktur Pembelajaran, di dalam kelompok ini TIK kita temukan dukungan teknis dan aplikatif untuk pembelajaran – baik dalam skala menengah maupun luas – yang meliputi: Ragam Teknologi Kanal Distribusi, Ragam Aplikasi dan Perangkat Lunak, Bahasa Pemrograman, Sistem Basis Data, Komputer Personal, Alat-Alat Digital, Sistem Operasi, Sistem Jaringan dan Komunikasi Data, dan Infrastruktur Teknologi Informasi (Media Transmisi).
Selain pemanfaatan ICT oleh lemabaga pendidikan formal, ICT juga telah banyak dimanfaatkan oleh lembaga-lembaga pendidikan informal sebagai sarana untuk pembelajaran.


Dampak ICT / TIK Dalam Pendidikan
Seiring berkembangnya zaman, ICT/TIK semakin digunakan di dunia pembelajaran, hal itu bisa terjadi karena ICT/TIK dirasa membawa keuntungan baik bagi pengajar maupun pelajar, keuntungan atau dampak positif dari pembelajaran yang menggunakan ICT/TIK tersebut antara lain adalah :
·         Pelajar jadi lebih mudah dalam belajar, karena kebanyakan pelajra lebih suka praktek dibandingkan teori.
·         Pengajar jadi lebih mudah mengajar jadi lebih mudah menyampaikan materi dengan membuat presentasi – presentasi.
·         Bagi pelajar maupun pengajar, pemberian dan penerimaan materi atau tugas tidak harus bertatap muka, jadi jika pengajar berhalangan hadir tetap dapat memberi tugas atau materi melalui e-mail.
·         Dalam membuat laporan baik bagi pelajar, maupun pengajar jadi lebih mudah karena jika memakai komputer, akan mudah dikoreksi jika ada kesalahan.
·         Dalam belajar, baik pelajar maupun pengajar akan lebih mudah mencari sumber karena adanya internet.
·          Pembelajaran yang menggunakan ICT/TIK bisa dibuat menjadi lebih menarik, misalnya dengan memunculkan gambar atau suara, sehingga pelajar menjadi lebih antusias untuk belajar.
Segala sesuatu pasti ada dampak positif dan negatif, tidak terkecuali pembelajaran yang menggunakan ICT/TIK :
·         Pembelajaran yang menggunakan ICT/TIK hanya bisa dilaksanakan oleh sekolah yang mampu, bagi sekolah – sekolah yang kurang mampu akan ketinggalan, dan siswanya akan kesulitan jika mereka masuk ke sekolah lanjutan di kota besar yang sudah sering menggunakan ICT/TIK.
·         Setiap pelajar harus mendapat fasilitas yang sama, jadi dalam pembelajaran yang menggunakan komputer, setiap pelajarnya harus memakai 1 komputer yang memadai, jika komputer yang dalam kondisi baik hanya sebagian, aka nada siswa yang hanya menonton, sehingga mereka tidak menguasai penggunaan komputer
·         Dalam pembelajaran, siswa – siswa yang tidak antuasias dalam penerimaan materi sering kali lebih suka main game selama pembelajaran, sehingga mereka tidak konsentrasi dan tidak menerima materi yang diajarkan.
·          Dalam pembelajaran yang menggunakan internet yang tidak dibatasi, sering kali pelajar menggunakan internet bukan untuk keperluan belajar, misalnya membuka situs youtube untuk menonton video dalam proses belajar
·         Bagi pengajar yang malas masuk kelas cenderung memberi tugas – tugas yang memanfaatkan internet sehingga tatap muka dengan pelajar jarang terjadi, akibatnya pengajar tidak mengenali pelajarnya.

Peran Guru & Siswa
Di dalam proses belajar-mengajar tentunya ada subjek dan objek yang berperan secara aktif, dinamik dan interaktif di dalam ruang belajar, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Guru & Siswa sama-sama dituntut untuk membuat suasana belajar dan proses transfer of knowledge–nya berjalan menyenangkan serta tidak membosankan. Oleh karena itu penataan peran Guru & Siswa di dalam kelas yang mengintegrasikan TIK di dalam pembelajaran perlu dipahami dan dimainkan dengan sebaik-baiknya.
Kini di era pendidikan berbasis TIK, peran Guru tidak hanya sebagai pengajar semata namun sekaligus menjadi fasilitator, kolaborator, mentor, pelatih, pengarah dan teman belajar bagi Siswa. Karenanya Guru dapat memberikan pilihan dan tanggung jawab yang besar kepada siswa untuk mengalami peristiwa belajar. Dengan peran Guru sebagaimana dimaksud, maka peran Siswa pun mengalami perubahan, dari partisipan pasif menjadi partisipan aktif yang banyak menghasilkan dan berbagi (sharing) pengetahuan/keterampilan serta berpartisipasi sebanyak mungkin sebagaimana layaknya seorang ahli. Disisi lain Siswa juga dapat belajar secara individu, sebagaimana halnya juga kolaboratif dengan siswa lain.










BAB III
PENUTUP

 ICT adalah segala hal yang berkaitan dengan pemanfaatan komputer untuk mengolah informasi dan sebagai alat bantu pembelajaran serta sebagai sumber informasi bagi guru dan siswa. ICT / TIK juga memiliki peran yang dalam segala bidang terutama dalam bidang pendidikan yaitu sebagai gudang ilmu pengetahuan, alat bantu pembelajaran, fasilitas pendidikan dan standar kompetensi. Dan ICT juga sebagai Manajemen terkait dengan perencanaan, pengelolaan, pengawasan dan evaluasi penyelengaraan pendidikan di tingkat sekolah.
Disamping memiliki dampak positif, ICT/TIK juga memiliki banyak dampak negatif dimana pengguna dapat mengakses tanpa batas informasi dan sering kali pelajar menggunakan internet bukan untuk keperluan belajar, misalnya membuka situs youtube untuk menonton video dalam proses belajar



















DAFTAR PUSTAKA

Dr.R.Krishnaveni and J.Meenakumari, (2010). Usage of ICT for Information Administration in Higher education Institutions – A study
Etudor-Eyo, Eno, PhD, dkk. (2011). Use of ICT and Data Preservation by School Administrators/Uporaba informacijsko komunikacijskih tehnologij in ohranjanje podatkov
Huang, C.-J., Liu, M.-C., Chang, K.-E., dkk. (2010). A Learning Assistance Tool for Enhancing ICT Literacy of Elementary School Students. Educational Technology & Society13 (3), 126–138.
Lim, Cher Ping, dkk. (2005). Classroom Management Issues in Information and Communication  Tecnology (ICT)-Mediated Learning Environments: Back to the Basics
Ng'ambi, Dick dan Johnston, Kevin. (2006). An ICT-mediated Constructivist Approach for increasing academic support and teaching critical thinking skills
Prihanto, Dwi. (2009). Pemanfaatan Tekmologi Informasi dan komunikasi (TIK) sebagai alat bantu pembelajaran guru